.credit-wrapper{background:url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPglJWkHzdIsehjcoz42EqIBXZzW2SSUYgf5YRpGdtvhZdb0antxmVojcMhDCKbtjXM04GXihEBuu-6nprucbMHkoNC4aPkIdf-Qy1I_zBnBr84UuMEETL2UTKEkc7LFcLXsMbNUsR6R1e/s320/post-divider%2520%25281%2529.png) no-repeat center; padding-top:70px}.credit a:link,.credit a:visited,.credit a:hover{color:#222;text-decoration:none}

Rabu, 19 November 2014

Cegah Bercak Putih (WSSV) yang Menyerang Udang di Tambak

Cegah Bercak Putih (WSSV) yang Menyerang Udang di Tambak

31 December 2007 1:12 p12

29/07/04 – Lain-lain: Artikel-dkp.go.id
Keganasan penyakit bercak putih bakterial (WSSV, White Spot Syndrome Virus) tidak hanya berdampak pada udang windu (Penaeus monodon) saja, tetapi juga dapat berdampak pada spesies krustase lainnya. Karena itu wabah penyakit dan penyebarannya harus dicegah.
Tanda serangan :
  • Terdapat tanda seperti bercak pada kulit udang berdiameter 0,5-2 mm.
  • Udang dalam keadaan lemah, berenang ke permukaan, kemudian mendekat ke pematang dan mati.
  • Tanda bercak sering tidak terdapat, tetapi pola kematian yang terjadi dalam skala logaritmis, yaitu kematian pada hari berikutnya mencapai 10 kali lipat, dan biasanya hanya dalam waktu antara 3-5 hari sejak gejala kematian pertama teramati kematian sudah mencapai 100%.
Faktor Pemicu Timbulnya Penyakit
Beberapa faktor pemicu timbulnya penyakit adalah :

  • Blooming fitoplankton kemudian mengalami kematian secara mendadak.
  • Kadar oksigen rendah.
  • Terjadi fluktuasi pH harian yang besar.
  • Rendahnya temperatur air.
  • Turun hujan secara mendadak.
  • Pengelolaan pakan yang kurang baik.
Organisme Penyebab
Penyebab penyakit WSSV adalah virus SEMBV (Systemic Ectodermal and Mesodermal Baculo Virus). Virus ini merupakan virus berbahan genetik DNA (Dioxyribonucleic Acid), berbentuk batang (bacillifrom). Organ yang terinfeksi virus adalah kaki renang, kaki jalan, insang, lambung, otot abdomen, gonad, intestinum, karapas, jantung sehingga menimbulkan infeksi yang sistemik (menyeluruh).

Infeksi terutama terjadi pada saat stadia pramolting, sehingga menimbulkan pola bercak pada saat pasca molting karena kerusakan sel ektodermal yang mengakibatkan penimbunan kalsium ke karapas terganggu.
Cara Penularan Penyakit
Penularan penyakit terjadi hanya melalui perantara karier (pembawa bibit penyakit) berupa jambret (Mesopodopsis sp.), udang liar, kepiting, rajungan dan benih udang windu yang ditebar sudah terkontaminasi di pembenihan. Bangkai udang terinfeksi oleh SEMBV apabila dimakan oleh udang sehat dapat mengakibatkan terjadinya penularan virus.

Pencegahan
Pengendalian penyakit dapat dilakukan hanya dengan cara :

  • Melakukan penebaran benih yang diketahui bebas virus, melalui pengecekan dengan PCR.
  • Jangan menggunakan benih yang berasal dari satu induk untuk ditebar pada beberapa petak, karena dikhawatirkan membawa bibit penyakit.
  • Benih yang sudah diketahui bebas virus dengan PCR, harus dicuci dengan 200 ppm formalin : benih dimasukkan kedalam wadah silinder/conical volume 500-1000 ml dengan kepadatan 500 ekor/liter, diberi aerasi dan dimasukkan formalin 100-200 ml dan dibiarkan selama 30 menit, aerasi dihentikan kemudian air diputar, benih yang mengendap disipon dan dibuang karena benih tersebut kemungkinan masih membawa virus , sedangkan yang sehat langsung ditebar.
  • Air untuk pemeliharaan danreservoir harus sudah diperlakukan dengan 30 ppm kaporit atau krustasid untuk membunuh karier kemudian diaerasi selama 1 minggu.
  • Hindarkan penyebab ster, untuk itu maka pergantian air harus dilakukan secara rutin.
  • Jaga kadar oksigen terlarut (DO) >3 ppm.
  • Pengelolaan pakan harus diperhatikan , hindari pemberian pakan secara berlebihan yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan.
  • Hindari pemeliharaan udang pada musim bediding (suhu air terlalu rendah).
  • Hindarkan pemberian pakan dengan segar, karena dikhawatirkan membawa virus.
  • Apabila terjadi fluktuasi pH yang besar (>0,5 unit) dalam satu hari, berikan kaptan (kalsium karbonat) untuk meningkatkan alkalinitas air dengan dosis hingga 300 kg/Ha.
  • Pemberian pupuk harus dilakukan di petak reservoir untuk mencagah terjadinya blooming di petak pemeliharaan.
  • Apabila terjadi udang kehilangan nafsu makan, dapat ditambahkan dengan atraktan berupa ikan rucah dengan rasio 1 kg. Ikan rucah untuk setiap 5 kg pelet.
  • Pemberian peptidoglukan (PG) dengan dosis 0,2 mg/kg. Biomass udang dapat meningkatkan ketahanan tubuh udang.
  • Lakukan penyiponan untuk mengambil lumpur dasar pada umur 3 bulan setalah tebar.
  • Apabila terjadi wabah di tambak tetangga tunda pengambilan air dari saluran umum, karena dikhawatirkan dapat tertulari oleh virus.
  • Apabila terjadi wabah kematian udang yang serius, segera dilakukan pemanenan terutama apabila udang sudah layak untuk dijual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar