CP Prima Berhasil Temukan Penangkal Virus IMNV
Tanggal: 16 September 2014Sumber: Press Release
JAKARTA —Virus IMNV yang masih menjadi momok
menakutkan bagi para petambak udang kini telah ditemukan penangkalnya.
Virus IMNV awalnya menyerang budidaya udang di Brasil sejak tahun 2004
kemudian menyebar ke Indonesia pada tahun 2006.
“Melalui proses ilmiah modern yang panjang dan
mendalam PT Central Proteina Prima Tbk (CP Prima) telah menemukan
formula yang diharapkan menjadi solusi penangkal virus yang menjadi
masalah utama budidaya udang tidak hanya di Indonesia namun juga di
beberapa negara lainnya,” papar George Basoeki, Head of Corporate
Communication PT Central Proteina Prima Tbk.
Namun demikian seperti dijelaskannya, penerapan
solusi ini tetaplah harus diiringi dengan biosecurity yang ketat,
penerapan tata cara budidaya yang baik, penggunaan pakan yang
berkualitas, dan pemakaian bibit udang (benur) berkualitas dan
bersertifikasi. “Langkah tersebut adalah syarat mutlak disamping
penggunaan formulasi ini,” tegas George.

Seperti diuraikannya, selama penelitian di
laboratorium milik CP Prima, percobaan terhadap IMNV dilakukan di dua
grup yang berbeda, control group (grup yang tidak diberikan formulasi
khusus) dan treatment group (group yang diberikan formulasi khusus).
Selanjutnya kedua grup ini diinfeksikan dengan IMNV.
“Hasil percobaan yang dilakukan berulang kali menunjukkan formulasi yang
diberikan di treatment group terbukti efektifitasnya dalam melindungi
udang dari virus IMNV dan tidak ada mortalitas (kematian) udang di dalam
grup ini,” urainya. Sedangkan di control group, tingkat mortalitas
mencapai 43 persen.
Menurut Achmad Wahyudi, Vice President of Aquaculture
Program & Data Centre (APDC) CP Prima, dari percobaan yang
dilakukan sejak awal tahun 2013 lalu, kini terbukti kejadian/penyebaran
penyakit udang seperti IMNV sudah lebih terkontrol. Saat ini solusi
tersebut telah diterapkan di area pertambakan udang PT Centralpertiwi
Bahari (CPB), anak usaha CP Prima di Lampung.
“Kini tingkat utilisasi kapasitas tambak CPB mencapai
85% dan tingkat keterjangkitan IMNV menurun sangat signifikan, yaitu di
bawah angka 1%,” papar Achmad Wahyudi. Menurutnya, tentu saja penurunan
ini menunjang keberhasilan budiddaya udang berkelanjutan serta
meningkatkan perolehan keuntungan para petambak plasma.
Padahal dalam beberapa tahun terakhir seperti
dijelaskan Achmad Wahyudi, area pertambakan udang CPB pernah menjadi
area yang sangat sulit untuk budidaya karena masalah penyakit virus
IMNV. Bahkan pada saat puncak outbreak IMNV di tahun 2009-2012, jumlah
tambak terjangkit IMNV lebih dari 30% dari jumlah total tambak yang
beroperasi. Sehingga kondisinya kala itu sangat sulit untuk melakukan
budidaya udang yang berkelanjutan.

Diungkap oleh George lebih jauh, solusi yang ditemukan CP Prima sangat praktis bagi para pembudidaya yaitu dengan penggunaan pakan berformulasi khusus dan pemberian suplemen cair tertentu ke dalam air budidaya. “Formulasi dan solusinya terbuat dari ekstrak tumbuh-tumbuhan alami yang melalui hasil laboratorium terbukti dapat meningkatkan imunitas alami udang sehingga mampu bertahan terhadap serangan virus penyakit,” jelas George.
Selain dapat menangkal virus, penerapan formulasi ini
terbukti tidak menurunkan kualitas pakan dan udang yang diproduksi.
Setelah dilakukan penelitian, SGS Indonesia—sebuah badan independen
internasional terbesar yang bergerak di bidang pengawasan, penelitian
dan sertifikasi global, melaporkan bahwa penggunaan formulasi ini tidak
mengurangi standar tinggi kualitas pakan dan udang yang selama
diterapkan oleh buyer-buyer internasional.
Direncanakan dalam waktu dekat, pakan berformulasi
khusus dan suplemen cair ini akan segera diproduksi massal dan
dipasarkan oleh CP Prima untuk membantu para pembudidaya udang di
seluruh Indonesia yang kesulitan akibat serangan virus udang IMNV. Ia
berharap dari kontribusi CP Prima ini, dapat membantu para petambak
udang untuk meraih kesuksesan serta meningkatkan kesejahteraannya
melalui budidaya udang.
“Atas prestasi membanggakan yang ditoreh dan
kemampuan yang dimiliki ilmuwan-ilmuwan CP Prima, semakin membuat CP
Prima lebih optimis dan jauh lebih siap mengantisipasi segala
kemungkinan yang terjadi, terutama dari serangan penyakit-penyakit udang
lainnya,” pungkas George.Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
George Basoeki, Head of Corporate Communication PT Central Proteina Prima Tbk
Email: george.basoeki@cpp.co.id